Minggu, 16 Maret 2014

Cerita Roti Cane

            Selamat malam, tak terasa sudah menginjak bulan Februari penuh cinta (katanya). Kali ini, aku akan sedikit bercerita tentang perjalanan jauh pertamaku (dan tanpa orangtua).
            Bulan Desember tahun lalu, aku (dan kawan seperjuangan sepenanggungan) iseng mencoba mengirimkan karya poster terbaik kami (amatir) di salah satu Festival tingkat Nasional untuk mahasiswa Fakultas Kesehatan, temanya tentang kanker! *Bro, kita baru semester 1 belum tahu menahu tentang kanker*
            Berhubung kawan saya tercinta itu, memiliki tekad yang nekad. Jadilah poster unyu kami yang langsung kita kirim ke panitia.


Tanggal 15 Januari 2014
            Jam 20.00 WIB lebih dikit, waktunya pengumuman 10 besar poster public terbaik. Alhamdulillah, kita lolos! Bersaing diantara puluhan poster, karya kami terpilih menjadi salah satu karya terbaik. Malam itu, kami berdua tidak bisa tidur karena terbayang keindahan Danau Toba, ya…. Karena memang Seleksi selanjutnya (yakni presentasi karya) dilaksanakan di Sumatera Utara.
            Eitss, jangan salah.. menjelang keberangkatan ada setumpuk berkas yang kami urus, khususnya terkait masalah keuangan. Mulai dari proposal dirmawa, fakultas hingga prodi. Setiap menit saya rajin miss call dosen, ngirit pulsa? Bukan! Karena pannggilan dari saya selalu di reject -_- Karena dosen saya sedang menguji OSCE kakak tingkat *muka keren agak songong*

Tanggal 1 Februari – 5 Februari 2014
            Jam 3.00 WIB kami bangun langsung mandi, dandan cantik. Cus ke Bandara Adi Soetjipto setelah subuh, guna menghindari kemacetan di pagi hari. Tapi sepertinya kita terlalu pagi, walhasil kita harus menunggu mbak-mbak kakak tingkat yang membawa tiket pesawat kita.
            Jam 7 kurang akhirnya kita ceck-in, dan…… kitaa terbaaangggggg……………..
Sekitar 2 jam kemudian, kita sampai di Batam lalu lanjut ke Kualanamu International Airport, Medan!
            Alhamdulillah, jam 13.00 WIB akhirnya tiba di Medan, sie Akomtrans dari FK USU sudah menunggu, sejujurnya mas-masnya terlalu ganteng *ngiler* (jangan hiraukan). Karena nggak setiap hari kita bisa main ke Kualanamu, maka kita menyempatkan diri untuk sholat dhuhur disana. Sayangnya kapasitas mushola yang tersedia di bandara tidak bisa mencukupi membludaknya jumlah jamaah, jadi kita harus antre dulu.
            Kota Medan agak panas saat itu, lebih panas daripada kampong halaman saya di Klaten, mungkin karena factor garis khatulistiwa (hipotesis saya). Hujanpun juga tidak pernah (selama 5 hari saya disana) sehingga payung yang saya simpan baik-baik di dalam koper tidak berguna sama sekali.
            Menurut saya, harga makanan di Medan jaaauuuhhh lebih maaahhaaalll dibandingkan di Jogja (yaiyalah!) Maaf, mungkin karena saya yang belum bisa move on dari Yogyakarta, dari lahir sampai sekarang belum pernah merantau kemanapun, dan harga makanan atau apapun di Jogja memang dikenal paling murah. Jadi, begitu saya membaca daftar menu makanan di salah satu warung makan di Medan langsung syok. Harga 1 potong ayam bakar di Medan 12.000, itu pun tanpa nasi, nah kalau di Jogja 10.000 saja sudah dapat ayam bakar, nasi + lalapan, plus es teh. Bandingkaannn…..
            Medan, kotanya indah apalagi waktu malam hari. Cocok untuk pacaran, ehehehe *kode*. Hampir di semua jalan dihiasi lampu-lampu (di perempatan, di pepohonan, di pinggir jalan) apalagi ketika itu bertepatan dengan Hari Imlek, lampion dimana-mana. Kereeennnn…….
            Roti Cane dan mie Aceh, 2 makanan ini yang nggak akan bisa dilupakan. Kenapa, kenapa? Nggggg, karena saya blasteran Jogja-Solo yang tiap hari makan masakan manis, 2 macam kuliner yg asik untuk lidah orang Sumatera itu sama sekali tidak cocok di system digestive saya. Alhasil saya mengalami nausea, tapi beruntungnya tidak menyebabkan vomitus, syukurlah. Mulai saat itu, saya kapok dan berjanji bila kelak saya akan kembali ke Medan, saya harus menyiapkan kecap dan gula pasir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar