Selamat malam, tak terasa sudah
menginjak bulan Februari penuh cinta (katanya). Kali ini, aku akan sedikit
bercerita tentang perjalanan jauh pertamaku (dan tanpa orangtua).
Bulan Desember tahun lalu, aku (dan
kawan seperjuangan sepenanggungan) iseng mencoba mengirimkan karya poster
terbaik kami (amatir) di salah satu Festival tingkat Nasional untuk mahasiswa
Fakultas Kesehatan, temanya tentang kanker! *Bro, kita baru semester 1 belum
tahu menahu tentang kanker*
Berhubung kawan saya tercinta itu,
memiliki tekad yang nekad. Jadilah poster unyu kami yang langsung kita kirim ke
panitia.
Tanggal 15
Januari 2014
Jam 20.00 WIB lebih dikit, waktunya
pengumuman 10 besar poster public terbaik. Alhamdulillah, kita lolos! Bersaing
diantara puluhan poster, karya kami terpilih menjadi salah satu karya terbaik.
Malam itu, kami berdua tidak bisa tidur karena terbayang keindahan Danau Toba,
ya…. Karena memang Seleksi selanjutnya (yakni presentasi karya) dilaksanakan di
Sumatera Utara.
Eitss, jangan salah.. menjelang
keberangkatan ada setumpuk berkas yang kami urus, khususnya terkait masalah
keuangan. Mulai dari proposal dirmawa, fakultas hingga prodi. Setiap menit saya
rajin miss call dosen, ngirit pulsa? Bukan! Karena pannggilan dari saya selalu
di reject -_- Karena dosen saya sedang menguji OSCE kakak tingkat *muka keren
agak songong*
Tanggal 1
Februari – 5 Februari 2014
Jam 3.00 WIB kami bangun langsung
mandi, dandan cantik. Cus ke Bandara Adi Soetjipto setelah subuh, guna
menghindari kemacetan di pagi hari. Tapi sepertinya kita terlalu pagi, walhasil
kita harus menunggu mbak-mbak kakak tingkat yang membawa tiket pesawat kita.
Jam 7 kurang akhirnya kita ceck-in,
dan…… kitaa terbaaangggggg……………..
Sekitar 2 jam
kemudian, kita sampai di Batam lalu lanjut ke Kualanamu International Airport,
Medan!
Alhamdulillah, jam 13.00 WIB
akhirnya tiba di Medan, sie Akomtrans dari FK USU sudah menunggu, sejujurnya mas-masnya
terlalu ganteng *ngiler* (jangan hiraukan). Karena nggak setiap hari kita bisa
main ke Kualanamu, maka kita menyempatkan diri untuk sholat dhuhur disana.
Sayangnya kapasitas mushola yang tersedia di bandara tidak bisa mencukupi
membludaknya jumlah jamaah, jadi kita harus antre dulu.
Kota Medan agak panas saat itu,
lebih panas daripada kampong halaman saya di Klaten, mungkin karena factor
garis khatulistiwa (hipotesis saya). Hujanpun juga tidak pernah (selama 5 hari
saya disana) sehingga payung yang saya simpan baik-baik di dalam koper tidak
berguna sama sekali.
Menurut saya, harga makanan di Medan
jaaauuuhhh lebih maaahhaaalll dibandingkan di Jogja (yaiyalah!) Maaf, mungkin
karena saya yang belum bisa move on dari Yogyakarta, dari lahir sampai sekarang
belum pernah merantau kemanapun, dan harga makanan atau apapun di Jogja memang
dikenal paling murah. Jadi, begitu saya membaca daftar menu makanan di salah
satu warung makan di Medan langsung syok. Harga 1 potong ayam bakar di Medan
12.000, itu pun tanpa nasi, nah kalau di Jogja 10.000 saja sudah dapat ayam
bakar, nasi + lalapan, plus es teh. Bandingkaannn…..
Medan, kotanya indah apalagi waktu
malam hari. Cocok untuk pacaran, ehehehe *kode*. Hampir di semua jalan dihiasi
lampu-lampu (di perempatan, di pepohonan, di pinggir jalan) apalagi ketika itu
bertepatan dengan Hari Imlek, lampion dimana-mana. Kereeennnn…….
Roti Cane dan mie Aceh, 2 makanan
ini yang nggak akan bisa dilupakan. Kenapa, kenapa? Nggggg, karena saya
blasteran Jogja-Solo yang tiap hari makan masakan manis, 2 macam kuliner yg
asik untuk lidah orang Sumatera itu sama sekali tidak cocok di system digestive
saya. Alhasil saya mengalami nausea, tapi beruntungnya tidak menyebabkan
vomitus, syukurlah. Mulai saat itu, saya kapok dan berjanji bila kelak saya
akan kembali ke Medan, saya harus menyiapkan kecap dan gula pasir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar