ditulis pada 4 Agustus 2015 16.10 WIB
Sudah menebak topik yang akan aku
bahas disini? Betul, berkaitan dengan pak polisi tentunya. Selama satu hari ini
aku bertemu dengan beberapa polisi. Pagi hari ketika akan berangkat ke Fakultas
Psikologi untuk mengikuti TOT co-fasilitator PPSMB Palapa (istilah yang dipakai
UGM untuk ospek mahasiswa baru di tingkat universitas) aku dibantu pak polisi
yang bertugas di Jakal (Jalan Kaliurang) untuk menyeberang jalan, sangat
bersyukur karena tanpa beliau aku bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya
untuk menyeberang.
| photo credit : http//www.metrotvnews.com/ |
Satu kalimat yang beliau sampaikan
adalah “……skenario Tuhan, semua terjadi
karena alasan. Maka, saat ini lakukan yang terbaik!” Sederhana, tapi
mengena. Menyadarkan kami untuk selalu percaya bahwa Allah memilihkan sesuatu, pasti yang terbaik untuk kita. Hanya, kita sering lupa dan
malah mencari jalan yang menyusahkan bagi kita sendiri.
Sepulang dari TOT, ada salah satu
temanku bernama Princess (nama disamarkan)
yang menawari tebengan. Ya, pastilah aku mau sebab jarak antara kosan
dengan Fak. Psikologi cukup lumayan, bila ditempuh jalan kaki memakan waktu
waktu sekitar 15 sampai 20 menit, tentu dengan ukuran panjang langkah kakiku.
Kami sepakat untuk pulang bersama. Mengambil motor dari parkiran Lembah,
melewati perempatan MM UGM dan…… Kami diberhentikan oleh pak polisi di tepi
Jakal. Ya, aku tidak memakai helm! Oke, SIM si Princess disita. Kami menuju ke pos
polisi di pojok hutan Fak. Kehutanan. Awalnya bapak polisi menawarkan untuk sidang,
tapi kami yang meminta untuk langsung bayar. Gapapa kena denda, karena pada
tanggal itu sedang berlangsung PPSMB dan mustahil apabila harus meninggalkan. Kami
deal.
Teman-teman, mungkin kalian juga
pernah ditilang (atau malah sudah khatam). Pernah merasa jengkel dengan polisi?
Tidak usah dijawab. Yuk, kita kembali merefleksikan diri kita sendiri. Ditilang
memang tidak menyenangkan, harus merogoh kantong untuk membayar denda, padahal
uang sudah di-plot untuk jatah makan. Masih merasa jengkel? Alangkah lebih
baiknya kita mengandai-andai, masih bersyukur loh kita ditilang pak polisi,
kalo ditilang Yang Maha Kuasa gimana? Ditilang dalam artian surat izin hidup milik kita diambil
kembali, atau lebih gamblang jika aku sebutkan nyawa kita sudah diambil Allah lewat kecelakaan karena tidak pakai
helm. Nah!
Aku teringat kata Pak Bayu diatas, “……skenario Tuhan, semua terjadi karena
alasan.” Berhusnudzon ketika ditilang, maka aku terhindar dari kecelakaan
yang mungkin saja terjadi saat melintasi Jakal yang sangat ramai apabila pak
polisi tidak memberhentikan kendaraan temanku, sebab tomorrow is mistery. Jangan buru-buru jengkel atau kezel dulu ya. Lha wong, kita yang salah kok malah
ngeyel nggak mau ditegur. Ojo sok mutusi
dewe!
![]() |
| photo credit : http://media.iyaa.com/ |
NB: tulisan ini bersifat netral, tidak membela profesi
manapun. Entah menjadi polisi, dokter, pengacara, bahkan chef, semua bersifat pengabdian. Bila anda menemui oknum yang
melenceng dari tanggung jawab, maka
bukan profesinya yang salah, namun orangnya yang bermasalah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar