Selasa, 04 Agustus 2015

Tilang

ditulis pada 4 Agustus 2015 16.10 WIB

Sudah menebak topik yang akan aku bahas disini? Betul, berkaitan dengan pak polisi tentunya. Selama satu hari ini aku bertemu dengan beberapa polisi. Pagi hari ketika akan berangkat ke Fakultas Psikologi untuk mengikuti TOT co-fasilitator PPSMB Palapa (istilah yang dipakai UGM untuk ospek mahasiswa baru di tingkat universitas) aku dibantu pak polisi yang bertugas di Jakal (Jalan Kaliurang) untuk menyeberang jalan, sangat bersyukur karena tanpa beliau aku bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menyeberang.

photo credit : http//www.metrotvnews.com/
Sebagai calon co-fasilitator, aku bersama teman-teman lainnya mendapatkan beberapa materi untuk menunjang kemampuan kami dalam mengemban tugas sebagai pendamping dari adik-adik mahasiswa baru, seperti teori mengenai adult learning, cara berkomunikasi, kemampuan public speaking, dan cara bagaimana menguasai kelas. Trainer kami adalah seorang dosen, dengan latar belakang pendidikan cukup unik. Ya, beliau Pak Bayu, yang lebih suka dipanggil dengan Mas Bayu karena terbilang masih muka bila dilihat dari penampilan beliau. Beliau lulusan S1 Akuntansi namun mengambil S2 Psikologi, unik bukan? Pembawaan beliau santai, menyenangkan, namun sangat mengena. Nah, dari pengalamanku jarang dosen yang bisa seperti ini, materi yang disampaikan mulai dari jam 8.00 hingga jam 15.00 terasa sangat cepat.

Satu kalimat yang beliau sampaikan adalah “……skenario Tuhan, semua terjadi karena alasan. Maka, saat ini lakukan yang terbaik!” Sederhana, tapi mengena. Menyadarkan kami untuk selalu percaya bahwa Allah memilihkan sesuatu, pasti yang terbaik untuk kita. Hanya, kita sering lupa dan malah mencari jalan yang menyusahkan bagi kita sendiri.

Sepulang dari TOT, ada salah satu temanku bernama Princess (nama disamarkan)  yang menawari tebengan. Ya, pastilah aku mau sebab jarak antara kosan dengan Fak. Psikologi cukup lumayan, bila ditempuh jalan kaki memakan waktu waktu sekitar 15 sampai 20 menit, tentu dengan ukuran panjang langkah kakiku. Kami sepakat untuk pulang bersama. Mengambil motor dari parkiran Lembah, melewati perempatan MM UGM dan…… Kami diberhentikan oleh pak polisi di tepi Jakal. Ya, aku tidak memakai helm! Oke, SIM si Princess disita. Kami menuju ke pos polisi di pojok hutan Fak. Kehutanan. Awalnya bapak polisi menawarkan untuk sidang, tapi kami yang meminta untuk langsung bayar. Gapapa kena denda, karena pada tanggal itu sedang berlangsung PPSMB dan mustahil apabila harus meninggalkan. Kami deal.

Teman-teman, mungkin kalian juga pernah ditilang (atau malah sudah khatam). Pernah merasa jengkel dengan polisi? Tidak usah dijawab. Yuk, kita kembali merefleksikan diri kita sendiri. Ditilang memang tidak menyenangkan, harus merogoh kantong untuk membayar denda, padahal uang sudah di-plot untuk jatah makan. Masih merasa jengkel? Alangkah lebih baiknya kita mengandai-andai, masih bersyukur loh kita ditilang pak polisi, kalo ditilang Yang Maha Kuasa gimana? Ditilang dalam artian surat izin hidup milik kita diambil kembali, atau lebih gamblang jika aku sebutkan nyawa kita sudah diambil Allah lewat kecelakaan karena tidak pakai helm. Nah!

Aku teringat kata Pak Bayu diatas, “……skenario Tuhan, semua terjadi karena alasan.” Berhusnudzon ketika ditilang, maka aku terhindar dari kecelakaan yang mungkin saja terjadi saat melintasi Jakal yang sangat ramai apabila pak polisi tidak memberhentikan kendaraan temanku, sebab tomorrow is mistery. Jangan buru-buru jengkel atau kezel dulu ya. Lha wong, kita yang salah kok malah ngeyel nggak mau ditegur. Ojo sok mutusi dewe!
photo credit : http://media.iyaa.com/

NB: tulisan ini bersifat netral, tidak membela profesi manapun. Entah menjadi polisi, dokter, pengacara, bahkan chef, semua bersifat pengabdian. Bila anda menemui oknum yang melenceng dari tanggung jawab, maka bukan profesinya yang salah, namun orangnya yang bermasalah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar