Minggu, 22 November 2015

Arema, Gajayana, dan Mas Samy Simorangkir

Dua kata kunci pertama diatas tentu bukan hal asing bagi kita. Ya, Malang. Tiga hari berselang setelah kepulanganku dari Kota Palembang aku beralih menuju Kota Malang. Sibuk sekalli? Oh, tidak. Ini hanya masalah timing yang memang ditakdirkan berdekatan. Pada mulanya aku juga tidak pernah mengira bahwa karya tulis kelompokku akan lolos di seleksi 10 besar. Sempat merasa kurang sehat karena faktor internal dan eksternal, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim akhirnya aku memantapkan diri untuk berangkat. Perjalanan aku tempuh kurang lebih selama 8 jam. Berangkat menggunakan Malioboro Ekspress, dengan mantap kami melangkah.

Rombongan kami tiba di Kota Malang sekitar jam 04.00 WIB, hawanya sejuk dan dingin. Bisa dipastikan, aku jatuh cinta dengan kota ini, seperti Wonosobo. Liasion officer (LO) sudah siap menunggu rombongan tepat didepan ATM BNI, Kris namanya. Ada yang berbeda ketika UGM bertemu dengan Universitas Brawijaya, aku merasakan kekeluargaan yang sangat erat, teman-teman Brawijaya sangat ramah dan satu lagi ada salah satu teman yang bernama Fatikha, kami pertama kali bertemu ketika di Palembang (3 hari yang lalu), dan hari ini dia rela datang jauh-jauh ke asrama mahasiswa Brawijaya membawakan kami 1 kardus martabak daging dan 1 kardus martabak manis, dan rasanya sama persis seperti yang biasa aku beli di dekat rumah, enak!

Malang terkenal karena klub sepakbolanya, masih ingat Irfan Bachdim kan? Pemain sepak bola ganteng berwajah indo yang sempat ngehits. Haha. Tidak cukup sampai Irfan Bachdim, ternyata teman-teman disini cukup enak dilihat, ganteng tidak keterlaluan dan cantik dalam porsi yang pas. Trus itu Mas Samy Simorangkir siapa ya? Samy Simorangkir itu adalah mantan vokalis Kerispatih. Ya, maksudnya begini salah satu panitia Nursing Scientific Festival (NSF) menurut rombongan UGM ada yang sangat mirip dengan mas Samy Simorangkir, dan mendadak hits di dalam bus karena delegasi UGM yang paling berisik. Mas Samy Simorangkir (bukan sesungguhnya) ini mendadak mencuri perhatian salah satu anggota delegasi UGM yang merupakan kakak angkatanku, mbak Mawar (nama disamarkan). Tentu, kita mendoakan yang terbaik terkait hubungan antara Mbak Mawar dengan Mas Samy Simorangkir. Hal ini bisa menjalin hubungan bilateral kedua belah pihak, antara Universitas Gadjah Mada dan Universitas Brawijaya.
Universitas Brawijaya
photo by : flickr.com

Di hari kedua, kami mempresentasikan karya tulis ilmiah kami. Berfokus pada self management penggunaan insulin kami mencoba menawarkan ide baru supaya diabetisi lebih taat dalam penggunaan insulin. Setelah acara presentasi yang menguras tenaga dan pikiran usai, kami menuju ke Batu Night Spectacular untuk bersenang-senang. Nah, di Kota Batu inilah aku memulai debut pertamaku sebagai biduan di Jawa Timur, dengan suara yang sedikit habis aku nekat mengambil mikrofon, bahasa gaulnya nge-jam. Sebetulnya agak dilema karena sebelumnya, aku naik dua permainan ala Dufan yang menguras adrenalin, kompensasinya suaraku habis karena berteriak-teriak tak karuan. Ah tapi sudahlah tak apa, kesempatan tak datang dua kali, siapa tau ada produser yang menonton. Hehe. Ini makin diperparah ketika lagu yang kunyanyikan sama sekali tidak tepat, karena aku memilih lagu yang dinyanyikan laki-laki sehingga di nada rendah suaraku tak terdengar, di nada tinggi aku tercekik (muka polos). Oke, ini memang konyol (sekali). Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tidak berkenan.
Batu Night Spectacular
photo by : www.bnsbatu.net


Empat hari di Malang, penyakit alergiku masih berlanjut, selain gatal tak karuan, pilek juga tak berkesudahan apalagi hawa disana relatif lebih dingin. Segala kekonyolan yang sudah aku perbuat sedikit mendistraksi, namun tidak mengobati. Aku benar-benar butuh bertemu dengan dokter GMC (Gadjah Mada Medical Center).

Hari berikutnya aku mengikuti seminar, seminar mengantak topic perawatan luka pada diabetes, kami biasa menyebutnya diabetic foot ulcer. Ada hal menarik yang aku temukan disini, yang pertama mengenai praktik mandiri keperawatan, yang kedua mengenai pendidikan informal perawat klinisi. Ini akan sangat panjang bila kujelaskan di tulisan ini, mungkin akan aku kupas lebih dalam mengenai 2 topik diatas di lain waktu.

Sekedar memberi wawasan, di dunia keperawatan dikenal pendidikan informal seperti pelatihan perawatan luka, estetik, dan sebagainya. Sebagai contoh aku yang telah menamatkan pendidikan S1 Keperawatan akan bergelar Alfi Kurnia Adha, S.Kep., Ns (Ns boleh diletakkan di depan nama menjadi Ns. Alfi Kurnia Adha, S.Kep tapi kurang baku, kata salah satu dosen seperti itu) dan jika mengikuti pelatihan perawatan luka + lulus uji kompetensinya akan ditambahkan gelar menjadi Alfi Kurnia Adha, S.Kep., Ns., CWCC (wound care clinician) dan berhak membuka praktik mandiri keperawatan, praktik mandiri ini sudah memiliki landasan hukum Permenkes RI No 17 tahun 2013.
Overlapping dengan dokter? Oh tidak, tenang saja kami bekerja sesuai dengan kompetensi kami, keperawatan. Dokter bekerja sesuai kompetensi mereka yaitu bidang medis dan pengobatan. Apabila pasien membutuhkan penanganan medis, kami tetap akan merujuk kepada dokter. 


Stigma orang awam masih bermacam-macam, aku memaklumi. Bahkan di kalangan akademisi juga masih sama halnya dengan orang awam, contohnya seperti kasus yang baru-baru ini terjadi di kampus paling hits di Indonesia (anda pasti tau lah). Branding perawat di kalangan masyarakat masih kurang jika dibanding dokter. Di tilik dari perjalanan kedua profesi ini, memang sangat berbeda asal muasalnya. (bagi anda yang penasaran, anda bisa kepo di buku Fundamentals of Nursing, Kozier and Erbs, buku ini setebal Sobotta dan juga berwarna-warni, bagus loh)

Yang kedua, gender berperan dalam branding profesi ini, dahulu mayoritas dokter adalah laki-laki, budaya patrilineal yang dianut masyarakat tempo dulu secara otomatis mengunggulkan profesi ini. Perawat, seperti yang kita tahu mayoritas adalah perempuan.

Yang ketiga, jumlah institusi keperawatan yang semakin banyak tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas lulusannya. Nah, inilah yang selama ini perlu dikritik. Stikes A, stikes B, akper C, hampir semuanya memiliki program S1 Ilmu Keperawatan, kompetensi lulusannya? Siapa yang berani menjamin? Beruntungnya profesi ini masih memiliki harapan, universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Sumatera Utara, Universitas Udayana yang notabene institusi pendidikan grade A berupaya mencetak perawat yang benar-benar berkompeten, dan tidak abal-abal. Hey, masa depan ada di pundakmu!

Hm, tulisanku sangat menyimpang dengan judul ya? Maafkan, dorongan naluri. Ini benar-benar mengalir aku tulis tanpa rekayasa. Saran dari teman-teman semua, baik dari kedokteran, gizi, kesehatan masyarakat, farmasi, kedokteran gigi dan keperawatan gigi sangat diharapkan demi kemajuan profesi perawat.

Jadi, bagaimana pandanganmu mengenai perawat?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar