Selasa, 04 Agustus 2015

Tilang

ditulis pada 4 Agustus 2015 16.10 WIB

Sudah menebak topik yang akan aku bahas disini? Betul, berkaitan dengan pak polisi tentunya. Selama satu hari ini aku bertemu dengan beberapa polisi. Pagi hari ketika akan berangkat ke Fakultas Psikologi untuk mengikuti TOT co-fasilitator PPSMB Palapa (istilah yang dipakai UGM untuk ospek mahasiswa baru di tingkat universitas) aku dibantu pak polisi yang bertugas di Jakal (Jalan Kaliurang) untuk menyeberang jalan, sangat bersyukur karena tanpa beliau aku bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menyeberang.

photo credit : http//www.metrotvnews.com/

Rabu, 17 Juni 2015

Siger #2

Mobil membawa kami menuju Balai Keratun, sebuah Gedung yang berada di kompleks kantor pemerintah Provinsi Lampung tempat welcoming party diadakan. Tak banyak piker, dengan cueknya aku mengikuti rangkaian acara tanpa berganti baju lebih dahulu, waktu itu aku mengenakan kaos biru, dengan bawahan celana jeans, menakjubkan bukan? Bagi kalangan mahasiswa yang belajar di Fakultas Kedokteran/Kesehatan akan terlihat sangat aneh ketika mengenakan jeans di acara formal.

Rangkaian acara terlewati, ada sambutan dari ketua panitia, ketua BEM, pihak dekanat hingga perwakilan dari pemerintah Provinsi Lampung. Oh iya, ada salam khas dari Lampung yang kalau tidak salah berbunyi “Tabikpuun” (atau apalah, mohon maaf bila ada salah penulisan) mungkin artinya semacan “nuwun sewu” bila di masyarakat Jawa.
Tugu Siger

Jarak dari Bandara Radin Saleh II menuju Balai Keratun menurutku cukup jauh, hamper 2 jam lamanya. Di sepanjang jalan, tidak banyak berbeda ketika dibandingkan Jalur Pantura ataupun Jalan Raya Jogja-Solo, sama-sama lebar, sama-sama berpapasan dengan truk-truk besar. Setelah mengikuti welpar, delegasi diantar menuju Hotel Arinas, jaraknya tidak terlalu jauh hanya saja di Kota Bandarlampung sebagian jalan rayanya hanya satu arah sehingga harus memutar-mutar padahal jalannya cukup lebar lhoo, dan jarang macet.

Selasa, 16 Juni 2015

Aku (Cuma) Rindu

Pernah merasa rindu/kangen? Rindu dengan keluarga, sahabat, teman dekat, atau doi? Tak perlu kamu jawab, karena jawabanmu sudah bisa ditebak. Menurut ilmu psikologi, rindu merupakan salah kebutuhan dasar manusia, hal ini dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam bentuk Hierarki Maslow.
Hierarki Maslow

Manusia berurutan memenuhi kebutuhan hidupnya dimulai dari yang paling dasar (paling bawah) selanjutnya terus menerus menuju ke titik tertinggi yaitu aktualisasi diri.

Jumat, 10 April 2015

Siger (1)

Pernah mendengar kosakata siger? Beruntunglah kamu, karena aku belum pernah. Siger adalah semacam hiasan kepala untuk pengantin wanita di wilayah Lampung. Mengapa Lampung? Ya, karena bulan lalu aku baru saja menginjakkan kaki di Bumi Rhuwa Jurai, Provinsi Lampung.
Pengantin adat Lampung

Jika dihitung, ini kali ketiga aku berkesempatan untuk jalan-jalan menjelang ujian PBT. Menyenangkan. Di perjalananku kali ini, ada hal-hal mengejutkan yang membuatmu sedikit syok dan membuatku sedikit kelimpungan (pada awalnya).

Oke kita mulai.

Kamis, 26 Maret 2015

Gambir, Menunggu Ular Besi Menjemputku Pulang

Malam ini akan kucoba kutepati janjiku, ada banyak cerita yang ingin kutulis kawan tapi apa daya… kau pasti tahu segala tentangku 

Cerita ini adalah pengalamanku 3 bulan lalu, sebelum tahun baru. Inilah perjalanan pertamaku, masih seorang diri juga menuju Ibukota Jakarta. Agak berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini si ular besi yang setia menemaniku, memeluk saat aku tidur, dan mengantarku hingga kota tujuan kurang lebih selama 8 jam.
Photo credit : ppobnusantara.com

Perjalanan darat yang cukup panjang, ini karena aku kehabisan tiket murah pesawat (baca : AirAsia). Pilihan kedua akhirnya kujatuhkan pada kereta api, harganya pun sangat bersaing dengan AirAsia, bersaing dalam arti tiket keretanya malah lebih mahal. Aku baru sadar ternyata kereta yang hendak mengantarku adalah kereta eksekutif, kuakui memang sangat menguras kantong apalagi bagi mahasiswa sepertiku. Tapi, harga tiket yang mahal ini memang pantas untuk pelayanan dan kenyamanan saat perjalanan. Sederhana, kursi di kereta api eksekutif ini menurutku lebih pas, ergonomis di badan ketimbang kursi di pesawat kelas ekonomi. Hal ini yang ku syukuri.

Rabu, 14 Januari 2015

Petualangan Ngurah Rai

Aku berfikir, cerita ini harus  kuceritakan ke banyak orang. Petualangan mandiriku, sendiri, tanpa kawan, tanpa pasangan, dengan kata lain aku seorang jomblo. Ini dimulai ketika kamis malam, sms singkat datang dari panitia sebuah acara kompetisi di Denpasar Bali, dimana aku menjadi peserta yang lolos. Aku buru-buru kalap dan mengecek situs penjualan tiket pesawat online, klik, klik, klik dan… tinggal transfer.

Di depan pintu ATM, aku masukkan kartu dan transfer, namun sayangnya transaksigagal. Kuputuskan untuk berpindah ke mesin tetangga, ternyata masih gagal, kucoba memakai kartu ATM lain ternyata nihil. Akhirnya, kuputuskan untuk membeli langsung ke kantor, keesokan harinya.

Sabtu, 1 november 2014
Satu tas sekolah (backpack) siap kubawa menuju denpasar. Perjalanan ku mulai dengan jalan kaki menuju Kopma UGM dan foodcourt UGM untuk sekedar membeli camilan selama perjalanan. Tepat jam 3 sore, aku berada di dalam bus Transjogja jalur 3B yang menuju kea rah Adisutjipto International Airport. Istimewanya, hari ini aku tidak merasakan macet, hanya satu jam kurang aku sudah berada di kawasan bandara, Maguwoharjo. Dengan enteng aku memasuki lorong dan akhirnya sampai diruang tunggu, masih 2 jam lagi untuk check-in, terlalu dini.. ya, aku takut tertinggal pesawat. Daripada merugi, lebih baik menunggu, pikirku. Tik tok tik tok tik tok, bandara di kota istimewa ini memang lebih kecil dibanding 3 bandara megah yang pernah kukunjungi, Kuala Namu, Hang Nadim atau Ngurah Rai. Aku berusaha mengusir rasa bosanku dengan berjalan kesana kemari, melihat suasana sekitar, atau sekedar mencium aroma Roti O yang sedapnya tak terkira itu. Niat untuk membeli makanan ini itu harus kuat aku urungkan, aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk berwisata kuliner di dalam airport. Waktu ashar telah lewat, tiba saat adzan maghrib, akhirnya waktuku untuk check-in. akan lega rasanya ketika tas sekolahku sudah masuk bagasi, kini aku bebas melenggang menuju ruang tunggu dan bisa melaksanakan sholat maghrib. Di ruang tunggu ini aku juga harus melawan rasa bosan, disamping itu aku harus focus ketika ada panggilan untuk boarding, kebiasaan buruk, aku selalu telat info ketika boarding, untung  saja tidak sampai tertinggal, huft.

Rabu, 12 November 2014

Selamat Ulang Tahun ya…

21:56 WIB

“Aku tak bisa mengucapkan secara eksplisit lewat sms, tapi biarlah doa-doaku terbang bersama angin, menguap bersama tetesan hujan yang berangsur kering hingga kau tak merasa aku selalu berdoa untukmu”.

Kriingg, kriing, kriing… alarm pagi bordering, kulihat masih jam 3 pagi, dengan malas kuraih tab mungil dan snooze! Kembali bordering jam 5 pagi, aku terbangun dengan perasaan terkejut, hari ini hari special! 12 November 2014, tepat peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 50, aku buru buru mengunggah poster ucapan peringatan yang merupakan titipan Menteri Divisiku, scroll scroll dan scroll… seperti biasa aku hanya melihat kesibukan yang terjadi di beranda facebook-ku, sekedar mencari hal-hal menarik untuk dibaca pagi ini, mulai dari status galau, rindu dengan kekasih sampai…. Rupanya ada yang menarik di pagi ini, Fiko teman sekelasku megunggah ucapan Hari Ayah Sedunia yang juga jatuh tepat hari ini, maka fix hari dinobatkan sebagai hari yang lebih istimewa dari lainnya.

Rupanya, bukan hanya itu… teringat akan 12 November. Ada seseorang yang dilahirkan pada tanggal yang sama, 20 tahun lalu. Kawan lama yang hamper terputus komunikasi, dulu kami dekat akan tetapi ada jarak yang panjang yang memisahkan kami. Aku tak bisa membedakan apakah dia ku anggap sebagai teman, kawan, sahabat, kakak, atau malah kekasih. Seharusnya sampai saat ini, aku tidak boleh mengenang dan ingat dengannya… karena tidak ada ikatan apapun diantara kami. Harusnya, aku bisa bebas memilih siapapun disekitarku untuk menjadi teman dekat ataupun kekasih, tapi mengapa ada rasa bersalah ketika aku bersama dengan orang lain.


Kuraih handphone ke tanganku, kuketik “selamat ulang tahun mas”… tapi, ah sepertinya tidak, pikirku. Pesan singkatku tersimpan dalan draft, yang tak tau akan kukirim kapan.